Success Story

Author: admin 107 views
1. Andrew Carnegie

     Sosok yang lahir di Eropa kemudian pindah ke Pennsylvania ini memiliki kehidupan yang jauh lebih baik. Berawal dari orang biasa yang memiliki kondisi ekonomi menengah kebawah, sosok Carnegie terinspirasi untuk membangun sebuah perusahaan produsen baja bernama Carnegie Steel Company.
     Setelah sukses dengan usahanya sebagai produsen baja, ia lantas menjadi seorang investor pada sebuah perusahaan pemasok cadangan minyak. Jika dihitung, kekayaan bersih yang didapat oleh Carnegie menjalani 300 juta dolar saat itu atau 300 miliar dolar saat ini.
     Kekayaan tersebut setara 4.182 triliun rupiah

2. Walt Disney

     Walt Disney adalah kartunis, produser, penulis skenario, dan seorang dermawan AS. Ia memiliki pendidikan formal hanya hingga kelas 8 dan karena tidak ada yang mempekerjakannya, ia memutuskan membuka perusahaan komersialnya sendiri.
     Pada 1920, ia membentuk perusahaan bernama Iwerks and Disney Commercial Artists. Tiga tahun kemudian, ia mendirikan “The Walt Disney Company”. Ia dianggap sebagai ikon nasional di industri animasi paman Sam. Dia memenangkan 22 Academy Awards dan tujuh Emmy Awards.

3. Henry Ford

     Henry Ford adalah pendiri perusahaan motor Ford, lahir pada 30 April 1863. Pada usia 15 tahun, ia meninggalkan sekolah dan mendapatkan popularitas sebagai tukang reparasi arloji.
     Pada 1893, ia merancang mesin bensin dan menamai mobil pertamanya sebagai “Ford Quadricycle” tetapi produk mobil itu gagal. Tidak putus asa, Ford mendirikan Ford Company pada 30 November 1901 dan mengembangkan mobil pertama untuk kalangan menengah Amerika.

4. Ali Bin Abi Thalib

     Kira-kira, di antara usia 8 hingga 16 tahun, ia menyaksikan awal turunnya wahyu kenabian. Ali bin Abi Thalib termasuk salah seorang yang mula-mulai memeluk Islam atau dikenal dengan golongan Assabiqun Al-Awwalun.
    Golongan inilah yang pertama kali mengakui bahwa Muhammad SAW adalah utusan Allah SWT dan mereka dijamin masuk surga, termasuk Ali bin Abi Thalib.
     Di kalangan pemuda Arab, Ali adalah pemuda pandai. Di masa itu, amat jarang ada orang yang bisa membaca dan menulis, termasuk Nabi Muhammad SAW adalah sosok ummi atau buta huruf.
     Karena itulah, Ali bin Abi Thalib menjadi juru tulis Nabi Muhammad SAW. Ali sering kali menuliskan surat yang didiktekan Rasulullah SAW.
     Karena kepandaiannya itu, Ali bin Abi Thalib mendapat julukan Babul Ilmi atau Gerbang Pengetahuan.
     Salah satu cerita penting dalam Islam mengenai ketokohan Ali bin Abi Thalib adalah ketika ia menjadi tameng Nabi Muhammad SAW pada peristiwa hijrah

5. Collonel Sanders

     Pada tahun 1930, Sanders menjadi pemegang waralaba dari Shell Oil Company. Masa sulit selama masa depresi membuatnya berpikir untuk menjual produk yang terjangkau. Jadi, untuk meningkatkan penjualannya, ia mulai menjual hidangan ayam, steak, ham, dan makanan enak lainnya kepada pelanggannya.
     Restoran aslinya adalah meja dapur yang diletakkannya di depan sebuah counter. Pada akhirnya, ia membuka Sander’s Café — restoran pertamanya yang sebenarnya — di seberang jalan dari stasiun layanan. Karena dia merasa butuh waktu terlalu lama untuk memasak, restoran aslinya mulai tidak menyajikan ayam goreng.
     Itu tetap terjadi sampai kemudian ketika dia mengembangkan resep ayam goreng rahasianya dari 11 bumbu dan rempah-rempah. Ia mulai memasak ayamnya di sebuah panci bertekanan tinggi yang dia ciptakan untuk mempercepat proses penggorengan.
     Faktanya adalah salah satu risiko dari proses memasak Kolonel adalah bahwa kompor tekanan yang ia gunakan dapat dengan mudah meledak.

6. Steve Jobs

     Resmi menyandang status mahasiswa DO (Drop Out), ia berhenti memilih kelas wajib dan mulai mengikuti kuliah yang ia sukai. Siapa sangka, kala itu ia memilih kelas kaligrafi. Sejak kuliah, Steve tidak memiliki kamar kos maupun tinggal di asrama mahasiswa, sehingga selalu menumpang tidur di tempat teman-temannya.
     Berselang 10 tahun kemudian, ia bertemu dengan teman lamanya di SMA yaitu Steve Wozniak yang dipanggil dengan sebutan Woz. Ia adalah seseorang yang ahli di bidang elektronika. Pertemuan kedua Steve tersebut adalah awal dari segalanya. Awal dari teknologi yang hingga saat ini bersaing ketat dengan teknologi canggih lainnya.
     Tahun 1976, bersama rekannya Steve Wozniak, Jobs yang saat itu berusia 21 tahun mulai mendirikan Apple Computer.Co di garasi milik keluarganya. Dengan susah payah mengumpulkan modal yang diperoleh dengan menjual barang-barang mereka yang paling berharga, usaha itu pun dimulai.
     Komputer pertama mereka, Apple 1 berhasil terjual sebanyak 50 unit kepada sebuah toko lokal. Dalam beberapa tahun, usaha mereka berkembang pesat sehingga tahun 1983, Jobs menggaet John Sculley dari Pepsi Cola untuk memimpin perusahaan kecil milik duo Steve tersebut.

7. Amancio Ortega

     Amancio Ortega seorang pendiri sekaligus pemilik dari Ritel dan aksesoris terkenal bermerek Zara ini terlahir pada tanggal 28 Maret 1936 di Spanyol dari keluarga yang miskin.
Saat Ortega mendirikan Zara di tahun 1975, beliau mengubah gaya bisnis ritel dunia dengan agresif dengan tujuan mendapatkan pakaian baru di rak lebih cepat daripada orang lain di pasaran.
     Dijuluki sebagai “Fast Fashion” strategi Ortega adalah dengan memperbarui setiap produk-produk di gerai-gerai Zara dua kali seminggu dan menerima pesanan dalam atau kurang dari kurun waktu 48 jam. Kecepatannya ini menjadi ciri bisnis Ortega sekaligus menyerikan bagi para kompetitornya.
     Ketika suatu produk fashion sedang tren diberitakan, pekan busana perlu waktu berbulan untuk menghadirkannya di departemen store. Tetapi untuk desain yang serupa akan mudah ditemukan pada toko Zara hanya dalam hitungan beberapa minggu saja.
Ortega selalu mendengarkan apa yang diinginkan orang-orang. Itulah sebabnya model-model fashion Zara berbeda dengan model-model yang dihadirkan dalam peragaan busana.
Rantai pasokan diatur sependek mungkin agar memungkinkan perusahaan menghadirkan tren-tren baru. Inilah yang membuat produk Zara dibeli pelanggannya dan tidak berada di kategori produk yang tidak diinginkan
Kisah Amancio Ortega seperti kisah dongeng si miskin yang menjadi kaya raya. Lahir dan memahami perjuangan hidup sebagai keluarga yang berkekurangan, ayah hanya seorang pekerja di perusahaan kereta api dan seorang ibu yang merupakan pembantu rumah tangga.
Bagi Ortega, tidak ada jaminan bahwa keberhasilan saat ini akan menjadi keberhasilan di masa mendatang. Menurutnya kepuasan adalah hal yang terburuk.
     Bahkan, Ortega berkata bahwa dirinya tidak pernah membiarkan dirinya puas atas apa yang telah dilakukannya. Pola pikir itulah yang sampai saat ini ditanamkannya pada dirinya dan orang-orang di sekitarnya.
Kelima pelajaran tersebut tentu bisa menjadi acuan bagi kita dalam mengambil langkah kedepan. Ortega juga mengajarkan kita bahwa tidak peduli darimana kita berasal, kita bisa menjadi seorang yang sukses. Tentu dengan usaha yang tidak kenal menyerah.
     Selain berusaha dengan sekuat tenaga, konsisten dalam berusaha juga sangat penting perannya. Tanpa sebuah konsistensi, usaha kamu akan sulit untuk berkembang. Maka dari itu, sifat konsisten perlu ada dalam diri kamu.

8. Francois Pinault

     Setiap orang berhak mengubah nasib. Seperti yang dilakukan Francois Pinault, pria dengan kekayaan berlimpah. Padalah dia terlahir di keluarga miskin yang pada gilirannya berujung membuatnya putus sekolah. Saat itu usianya masih terlalu muda.
Pinault beranjak untuk melanjutkan hidupnya dengan tekad, konsistensi, dan kerja keras. Situasi kehidupan yang sulit membuatnya belajar banyak hal.
     Setelah keluar dari sekolah menengah pada tahun 1947, dia bergabung dengan bisnis keluarganya, yaitu perdagangan kayu. Kesempatan tersebut betul-betul dia manfaatkan untuk belajar.
Pada tahun 1970-an, ketika dia sudah memiliki pengetahuan tentang bagaimana menjalankan bisnis, dia mulai membeli perusahaan perusahaan kecil dan mengubahnya menjadi perusahaan raksasa.
     Pada tahun 1999, Pinault mengubah arah bisnisnya ke barang-barang mewah. Lewat perusahaannya, dia telah memegang merek Gucci, Saint Laurent, Alexander McQueen dan Stella McCartney. Merek produk olahraga PUMA juga telah dia pegang.
     Strategi yang dia terapkan itu membantunya berhasil membangun kerajaan bisnis yang luas. Bahkan berdasarkan catatan Forbes, kekayaan miliarder Perancis itu mencapai US$ 27,2 miliar per 7 Januari 2019. Nilai tersebut setara Rp 394,4 triliun (kurs Rp 14.500).

9. Richard Branson

     Richard Branson adalah seorang pengusaha asal Inggris dengan bisnis multinasional yang ia mulai sekitar tahun 1970 an dan kemudian membangun Virgin Group.
     Richard Branson lahir pada tanggal 18 Juli 1950, di Surrey, Inggris.
Namun ketika menginjak usia 16 tahun Richard Branson harus putus sekolah. Ini merupakan sebuah keputusan yang pada akhirnya mengarah pada kemunculan Virgin Records.
     Industri musik adalah awal mula kemunculan bisnisnya dan kemudian ia mulai merambah ke sektor lain untuk mengembangkan sayap bisnisnya, termasuk usaha di bidang pariwisata luar angkasa yang ia beri nama Virgin Galactic.
Richard Branson putus sekolah pada usia 16 tahun dan kemudian memulai sebuah bisnis majalah pemuda yang diberi nama Student.
Perusahaan ini tampak sederhana tetapi cukup baik bagi Richard Branson untuk memperluas usaha bisnisnya, hingga ia mampu mendirikan toko rekaman yang terletak di Oxford Street, London.
     Dari keberhasilan toko barunya tersebut, Richard Branson yang putus sekolah ini mampu membangun sebuah studio rekaman pada tahun 1972 di Oxfordshire, Inggris.
     “Setelah sesuatu yang menyenangkan berhenti, saya pikir inilah saatnya untuk bergerak. Hidup terlalu singkat untuk tidak bahagia. Bangun tidur dengan perasaan stress dan sengsara bukanlah cara yang baik untuk hidup” – Richard Branson

10. Zhou Qunfei

     Kerja keras tak akan mengkhianati hasil. Mungkin, pepatah tersebut cocok disematkan kepada Zhou Qunfei salah satu wanita terkaya asal China.
     Kekayaan Qunfei saat ini mencapai US$ 4 miliar atau Rp 60 triliun (kurs Rp 15.000). Berdasarkan catatan Forbes, ia masuk dalam daftar 56 miliuner wanita yang kaya raya berkat usaha sendiri.
     Harta Qunfei berasal dari Lens Technology. Perusahaan tersebut memproduksi layar untuk berbagai ponsel canggih seperti Samsung dan Apple.
Di usia 16 tahun, Qunfei terpaksa meninggalkan bangku sekolah guna menafkahi keluarganya. Dia bekerja di pabrik pembuatan jam dengan upah sekitar US$ 1 per hari. Dalam sebuah surat kabar, Qunfei menceritakan lingkungan tempatnya bekerja sangat buruk.
     “Saya bekerja dari 8 pagi hingga jam 12 pagi, dan kadang sampai jam 2 pagi,” katanya.
     Pada usia 22 tahun, dia memutuskan memulai usaha dengan membuat lensa jam. Dia berusaha dengan modal US$ 3.000. Saat itu, Qunfei tinggal dan bekerja di apartemen kecil bersama saudara-saudaranya.
     Usahanya terus berkembang. Namun, bisnisnya meroket saat membuat layar untuk telepon selular.

Motorola adalah yang menjadi pelanggannya pada tahun 2003. Kemudian, diikuti oleh yang lainnya seperti HTC, Nokia, Samsung, hingga Apple.
     Menurutnya, merintis bisnis memang tidak mudah. Qunfei bahkan bekerja selama 18 jam hingga tinggal di kantornya
Namun kerja kerasnya itu terbayar. Lens Technology kini mempekerjakan 74 ribu orang di 32 pabrik di 7 lokasi yang berbeda.
     Dalam sebuah wawancara dengan Times, Qunfei menceritakan kehidupannya di mana untuk seorang gadis sepertinya tidak memiliki kemewahan untuk pergi ke sekolah menengah atas. Satu-satunya pilihan ialah menikah dan menghabiskan seluruh hidupnya di desa. Tapi, Qunfei menolak hal itu.
     “Saya memilih untuk berbisnis, dan saya tidak menyesalinya,” ujar Qunfei.